Abu Ubaidah bin Al-Jarroh, Kesatria Islam Penakhluk Levant Yang Bergelar Aminul-Ummah

by -0 views
Siapa yang tak kenal dengan sosok pahlawan Islam yang satu ini. penampilannya sejuk lagi menentramkan hati siapa saja yang berhadapan dengannya. Gaya bicaranya fasih dan jelas, tubuhnya tinggi ramping dengan pandangan mata yang cerah memancar, tajam penuh kepercayaan. Dia adalah simbol ketinggian martabat dan kasih sayang seorang pria sejati. Lihatlah tampilan raganya yang rupawan. Baik karakter maupun sifatnya terbentuk dengan sikap rendah hati dan bersahaja.

Begitu juga dalam pergaulan sehari-hari, beliau adalah seorang yang ramah dan lemah-lembut dalam bertutur kata. Namun ketika membela kebenaran dan Islam, di tengah kancah peperangan, ia berubah menjadi kokoh sekeras baja. Dan dia terkenal dengan sosok yang dua gigi depannya lepas tercabut dalam Perang Uhud dalam upaya menyelamatkan nyawa Nabi Muhammad Shalallohu’alaihi wasallam. Tatkala itu Nabi Shalallohu’alaihi wasallam terkepung dan terdesak oleh gempuran kaum musyrikin sehingga dua ujung besi topi baja Nabi menusuk dan menembus pelipis beliau. Lalu Abu Ubaidah mencabutnya dengan gigi-giginya hingga dua gigi depannya tanggal.

abu ubaidah bin al jarrah kesatria islam penakhluk levant

Ketulusan dan kejujurannya juga tiada bandingnya di antara para Sahabat. Dan Nabi Muhammad Shalallohu’alaihi wasallam memberinya gelar terhormat Aminul-Ummah (Kepercayaan Umat). Ketahuilah, dialah yang bernama asli Amir bin Abdullah bin al-Jarrah. Dan setiap orang terbiasa memanggilnya Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Abdullah bin Umar radhiallohu’anhu bertutur tentang sosok Abu Ubaidah ini, bahwa di kalangan suku Quraisy ada tiga orang yang baik penampilan wajahnya, budi pekerti maupun kerendahan hatinya lebih unggul daripada yang lainnya. Tiga orang ini juga dianugerahi Allah dengan kemampuan berbicara fasih dan lembut. Sekali memandangnya, mereka ingin terus menatapnya.

Tiga orang itu adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Utsman bin Affan radhiallohu’anhuma. Abu Ubaidah bin al-Jarroh adalah salah satu di antara para sahabat terhormat yang paling pertama masuk Islam (as-Sabiqun al-Awwaalan). Dia berjanji setia kepada Islam sehari setelah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallohu’anhu, bahkan ash-Shiddiq lah yang mengundangnya untuk menerima Islam. Saat itu Abu Ubaidah bin al-Jarroh, Abdurrahman bin Auf, Arqam bin Abi Arqam dan Utsman bin Mazh’un menyertai Abu Bakar ash-Shiddiq pergi menemui Nabi Shalallohu’alaihi wasallam dan berikrar, ”Tidak ada satupun yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya. ”Tidak diragukan lagi merekalah pilar-pilar penyangga dakwah Islam nan agung dan kokoh”.

Semasa hidupnya, Abu Ubaidah bin al-Jarroh melewati ujian yang teramat pedih. Boikot dan situasi sulit yang dilancarkan oleh kaum kafir Quraisy dihadapinya dengan keberanian, kesabaran dan ketabahan yang sungguh mengagumkan. Selama menjalani periode kesulitan dan penderitaan ini ia tetap teguh berdiri. Setiap saat ia dengan tulus dan jujur mengakui kebenaran Nabi Shalallohu’alaihi wasallam sebagai utusan Allah dan ia tidak pernah berputus asa.

Tapi kali ini cobaan yang dihadapinya sangatlah berat, yakni pada Perang Badar dimana hamper-hampir melampaui batas penalaran manusia. Kenapa tidak? lihat saja disaat Perang Badar tersebut berkecamuk, Abu Ubaidah dengan gagah berani menerjang ke tengah-tengah barisan musuh. Sepak terjangnya yang penuh keberanian ini menggetarkan musuh yang melihatnya dan mereka pun lari pontang-panting menghindarinya.

Saat itu Abu Ubaidah terus berkeliling tanpa rasa takut di tengah-tengah barisan musuh tanpa memandang resikonya sama sekali. Seolah-olah kematian di medan Badar adalah sesuatu yang sangat dirindukannya. Setiap kali ia berhadapan dengan ksatria-ksatria berkuda musuh, mereka selalu menghindar darinya, kecuali satu orang dari kalangan mereka. Dan bahkan Abu Ubaidah pun enggan untuk bertemu dan selalu menghindar dari petarung Quraisy itu. Serangan gencar orang tersebut hanya dibalas dengan kelitan dan upaya menyingkir oleh Abu Ubaidah. Tapi pada suatu kali, Abu Ubaidah benar-benar terjebak dan tidak dapat menghindar lagi. Semua jalan sudah tertutup baginya untuk tidak bertemu. Tidak ada celah bagi Abu Ubaidah untuk beringsut menghindarinya seperti yang sudah-sudah. Benar-benar terjepit! Dan tidak ada jalan lain bagi Abu Ubaidah kecuali untuk menghadapinya dengan sabar.

Segera ia mengelebatkan pedangnya ke kepala Iawan. Dan apakah yang terjadi? Tengkorak sang ksatria Quraisy itu pecah menjadi dua dan tewas terkapar seketika di hadapannya. Dapatkah Anda menebak siapa orang yang terus dihindari oleh Abu Ubaidah dan akhirnya harus terbunuh di tangannya sendiri ini? Dan mengapa Abu Ubaidah selalu menghindar darinya? Ternyata orang yang telah dibunuhnya itu tak lain  adalah ayahandanya sendiri yang berada di pihak kafir Quraish! Ayah kandung beliau yang berperang di pihak musyrikin Quraisy untuk menghacurkan bala tentara Muslimin. Sungguh tak terbayangkan cobaan keimanan yang dialami Abu Ubaidah. Jarang sekali ada manusia yang dihadapkan kepada situasi seperti ini.

Abu Ubaidah sadar bahwa manusia yang dibunuhnya itu adalah ayah kandungnya, yang telah merawat dan membesarkannya sejak kecil, tetapi sesungguhnya yang dibunuhnya adalah kemusyrikan yang bercokol di jiwa sang ayahnya.

Pedang Abu Ubaidah telah rnemenggal leher ayahnya demi menegakkan kalimat Tauhid, memerangi sang ayah yang menyekutukan sesuatu yang lain dengan Allah Yang Maha Esa. Dengan memenuhi peran penuh keteladanan ini Abu Ubaidah ingin menegaskan bahwa Allah dan agama-Nya adalah lebih berhak didahulukan daripada yang lainnya. Cinta akan Allah lebih utama dari semua ikatan lainnya, walaupun itu seorang ayah.

Kepahlawanannya ini diridhai Allah Subhanahuwata’ala hingga diabadikan dalam firman-Nya,
“Engkau (Muhammad) tidak akan menalapati suata kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipan orang- orang itu bapaknya, atau anaknya, saudaranya ataupuh keluarganya. Mereka (yang benar-benar beriman) itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat-Nya). Mereka itulah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadilah: 22)

Ketahuilah wahai suudara seimanku, adakah keberuntungan yang lebih baik bagi seorang hamba melainkan pujian dari Allah? Adakah yang lebih membahagiakan seseorang di dunia ini daripada rekomendasi Al-Qur’an terhadap dirinya? Tidak diragukan lagi, itulah Abu Ubaidah bin al-Jarroh yang telah menerima kehormatan ini. Selama sangkakala belum ditiup, al-Qur’an al-Karim akan terus dibaca. Dan orang-orang Mukmin akan melewati ayat tadi yang bercerita tentang Abu Ubaidah.

Kini kembali kita beralih menuju sebuah momen yang begitu dahsyat yang terjadi di tengah Perang Uhud. Kala itu, pertempuran sungguh telah mencapai puncaknya. Suara gemerincing pedang memekakkan telinga. Pekik dan teriakan kesakitan begitu nyaring terdengar hingga menegakkan bulu roma yang mendengarkannya. Kedua pasukan sama-sama mengerahkan kekuatan hingga limit kemampuan terakhirnya. Waktu berjalan, pada akhirnya musuh Islam mulai terdesak. Dan pasukan Mujahidin mengejar mereka sampai ke perkemahan mereka dan mendapati harta-harga mereka yang ditinggalkan. Pasukan pemanah Muslimin yang ditugasi Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam untuk melindungi Mujahidin dari atas bukit uhud menyaksikan pemandangan yang menggembirakan ini. Mereka akhirnya terpancing untuk turut mengejar musuh dan mengambil harta rampasan perang yang sudah ditinggalkan pemiliknya yang sudah dihalalkan Allah. Mereka terlupa akan wasiat Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam sebelum perang berlangsung yang melarang mereka untuk meninggalkan posisinya, apapun yang terjadi.

Melihat tim pemanah kaum muslimin turun dari bukit, saat itu panglima musyrikin segera melihat kesempatan emas ini. Mereka paham bahwa tidak ada lagi pasukan pemanah yang melindungi pasukan Muslimin dari ketinggian. Pasukan kafir Quraish segera berbalik arah mengitari bukit Uhud dan berbalik mengepung Mujahidin hingga  mendekati posisi Rasululloh Shalallohu’alaihi wasallam.

Pada tahap ini Abu Ubaidah menyadari bahwa Nabi Shalallohu’alaihi wasallam tercinta berada dalam bahaya. Tanpa membuang waktu lagi, ia menerjang di antara musuh dan berhasil mencapai Rasululloh. Namun Rasululloh Shalallohu’alaihi wasallam sudah terlanjur terluka dan berdarah-darah akibat gempuran musuh yang berbalik tadi. Beliau bertutur, ”Bagaimana bisa beruntung, orang-orang yang telah mengucurkan darah dari wajah Nabi mereka?”

Abu Bakar Siddiq melukiskan kepahlawanan Abu Ubaidah dalam pertempuran ini. Abu Bakar ash-Shiddiq mengisahkan, ”Takkala pertempuran Uhud terjadi dan Nabi Shalallohu’alaihi wasallam terkena hantaman musuh pada bagian wajahnya hingga dua buah rantai helm baju (yang dipakai beliau) menusuk pelipis beliau dan tertancap. Aku pun segera berlari ke arah Rasululluh, namun tiba-tiba aku melihat seorang munusia telah bergerak lebih dulu dari arah timur ke arah beliau secepat burung yang terbang. Maka aku katakan, “Ya Allah, jadikanlah sebagai amalan ketaatan, hingga kami pun sampai kepada Rasulullah. Ternyata Abu Ubaidah bin al-Jarrah telah menduhului aku disana. Dia berkata, ‘Aku meminta kepadamu dengan nama Allah wahai Abu Bakar untuk membiarkan aku mencabut (rantai topi baju) itu dari pipi Rasululloh. Aku pun membiarkannya, lalu ia menggigit ratai besi itu dengan gigi depannya dan mencabutnya. Saat rantai besi itu tercabut dari pipi Rasululloh, saat itu pulalah dua gigi depan Abu Ubaidah tanggal dan terlepas dari gusinya. Maka jadilah Abu Ubaidah sebagai orang yang kehilangan dua gigi depannya. Semua itu dilakukan Abu Ubaidah demi cintanya kepada Nabinya.

Waktu berlalu, pada tahun 6 Hijriyah, Abu Ubaidah ditunjuk menjadi komandan pasukan dari tiga ratus orang untuk mengadakan pengintaian dan melaporkan pergerakan kafilah dagang dan militer kafir Quraisy. Mereka terpaksa harus menempuh perjalanan sepanjang daerah pesisir untuk menyelesaikan tugas ini. Tapi pasukan ini terpaksa harus berbekal segelintir kurma karena kondisi dimasa itu sangat sulit sekali. Abu Ubaidah pun harus seadil mungkin membagikan makanan yang ada kepada pasukannya dengan sangat hemat dan merata.

Perlu diketahui bahwa kondisi logistik di masa itu betul-betul sangat memprihatinkan dan menyedihkan. Para Sahabat terpaksa berbekal dengan satu butir kurma dan mereka harus bertahan hidup dengannya. Dan takkala kurma itu pun habis, mereka kemudian harus menahan perihnya rasa lapar yang menerpa dengan cara menggantinya dengan memakan dedaunan alias khabath. Dalam bahasa Arab, artik Khabath adalah dedaunan, sehingga ekspedisi tersebut kemudian dikenal dengan nama Perang Khabath.

Di saat kelaparan yang menggetarkan tubuh terasa, salah seorang sahabat yang bernama Qais bin Sa’d berhasil memperoleh beberapa ekor ternak yang kemudian disembelih dan dimasak untuk dikonsumsi seluruh pasukan. Dan terbuktilah bahwa Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepada para Mujahidin. Begitu juga dikala mereka bergerak menyusuri garis pantai, tiba-tiba ikan terlempar dari laut ke tengah pasukan yang sedang melewatinya. Dan yang luar biasa, ikan yang muncul itu bukanlah ikan kecil, tetapi ikan berbobot besar yang ukuran rongga matanya saja bisa dimasuki oleh beberapa orang. Sungguh daging ikan itu menjadi pasokan makanan yang melimpah-ruah bagi anggota pasukan disaat itu. Dengan demikian mereka menikmati makan besar yang disediakan oleh Allah Yang Maha Pemberi.

Allah tidak pernah mengecewakan orang-orang yang memiliki ketawakalan penuh dan iman kepada-Nya. Ada masanya ujian dan cobaan menerpa, tetapi setelah itu datang pula lah masa kesenangan. Sesungguhnya di balik setiap kesulitan, ada kemudahan.

Disaat pasukan kaum muslimin hanya berbekal kurma yang begitu sedikit untuk menopang tubuh mereka, tidak pernah terlintas keluhan dari mulut mereka. Inilah bukti mereka memiliki iman mutlak dan kepercayaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedalaman iman mereka kepada Allah sangatlah dalam sehingga memberi keyakinan bahwa Zat yang telah menciptakan mereka pasti akan memelihara mereka. Allah Yang Maha Kuasa yang memerintahkan mereka melangkah ke medan perang, pasti menyediakan rezeki yang cukup untuk mereka. Tentu Allah pasti akan memberikan  sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiran para pejuang agama Allah itu. Hanya iman yang membuat mereka percaya akan bantuan Allah.

Pada tahun 7 Hijriyah, Nabi Shalallohu’alaihi wasallam menaklukkan Khaibar. Pada kesempatan ini Abu Ubaidah juga hadir bersama dengan beberapa panglima terkemuka lainnya. Disaat itu, sahabat Amr bin al-Ash mengatakan secara tersirat bahwa dia yang menjadi pemimpin pasukan ini dengan barkata, “Sebenarnya engkau adalah sebagai bala bantuan untukku.”

Abu Ubaidah mengetahui perkataan sahabat ini pun mengalah dan berkata, “Wahai Amr, sesungguhnya Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‘]anganlah kalian berdua berselisih!’ Dan jika engkau tidak mau taat kepadaku maka akulah yang akan taat kepadamu.”

Peristiwa itu melihatkan kepada kita bahwa Abu Ubaidah menampilkan sikap rendah hatinya yang begitu mengagumkan dan bersedia mengalah di bawah komando Amr bin al-Ash. Dan memang, Abu Ubaidah tidaklah berjuang untuk kekuasaan memerintah, melainkan untuk tujuan yang lebih mulia yakni kemuliaan Islam. Itulah sebabnya Abu Ubaidah tidak mau bersikap ambisius terhadap kepemimpinan di dunia ini.

Mungkin karena itu pula lah maka Nabi Shalallohu’alaihi wasallam sangat mencintai Abu Ubaidah bin al-Jarroh begitu dalam hingga sering menjatuhkan pilihan padanya daripada kepada sahabat-sahabatnya yang lain.

Pada tahun 9 Hijriyah datanglah delegasi dari Najran menemui Rasululloh. Najran adalah sebuah wilayah di daerah Yaman. Mereka tidak bersedia menerima Islam dan lebih memilih membayar jizyah. Dengan sopan mereka meminta Nabi Muhammad Shalallohu’alaihi wasallam agar mengirimkan seseorang yang dapat mereka percaya untuk mengurus itu semua.

Rasululloh Shalallohu’alaihi wasallam mengabulkan permohonan itu dan memerintahkan kepada mereka agar datang lagi besok untuk dipertemukan dengan seorang yang sangat dipercaya dan bertanggungjawab akan tugasnya. Para Sahabat yang mendengar kalimat sanjungan ini dalam hati mereka sangat berharap bahwa dirinyalah orang yang dimaksud oleh Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam.

Umar bin al-Khaththab berkata, “Aku tiduk pernah sekali pun menginginkan sebuah kepemimpinan yang kuharapkan diriku sebagai pemimpinnya. Aku bergegas menuju Jama’ah sholat Zhuhur dengan berjalan kaki di terik mentari tengah hari. Tatkala Rasulullah mengimami sholat Zhuhur, beliau mengucapkan salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku mengulurkan leherku untuk menarik perhatian beliau. Namun pandangan beliau terus berputar sampai akhirnya melihat Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Beliau memanggilnya dan bersabda, ‘Pergilah bersama mereka, delegasi Najran dan putuskanlah dengan benar pada perkara-perkara yang mereka perselisihkan”.

Abu Ubaidah pun mentaati perintah Rasululloh dan pergi bersama delegasi itu ke Yaman. Kalimat pujian yang pernah diucapkan Nabi Muhammad Shalallohu’alaihi wasallam akan dirinya menjadi rekomendasi yang begitu membanggakannya. Ini adalah suatu kehormatan tersendiri baginya, yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain.

Telah banyak perang yang diterjuni oleh Abu Ubaidah dalam membela Islam. Diantaranya dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, Bani Quraidhah, Salasal, Damascus, Pella, Emesa dan Hieromax dan banyak pertempuran lainnya. Dalam setiap pertempuran itu, Abu Ubaidah selalu membuktikan keberanian dan kepahlawanannya. Abu Ubaidah juga menghadiri Perjanjian Hudaibiyah, yang ikut menandatangani perjanjian itu. Dia juga menyertai Nabi Muhammad Shalallohu’alaihi wasallam dalam Haji Wada’ (haji perpisahan).

Dan peran pentingnya terukir indah disaat Nabi wafat. Dikala itu para Sahabat sangat berduka dan merasa begitu merasa kehilangan. Setiap orang berlinangan air mata dan merasa seperti penumpang bahtera yang terkatung-katung tanpa nahkoda. Muncul pertanyaan pelik tentang siapakah yang layak menggantikan kepemimpinan Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam. Pada titik kritis ini Abu Ubaidah memainkan peran signifikan. Beliau radhiallohu’anhu mencoba menenangkan kaum Anshor dan Muhajirin.

Abu Bakar ash-Shiddiq mengingatkan seluruh Sahabat yang berselisih dan mengatakan bahwa mereka masih memiliki pemimpin yang layak sepeninggal Nabi untuk dijadikan pemimpin. Salah satunya adalah al-Faruq. Dimana Nabi Shalallohu’alaihi wasallam pernah berkata tentang dirinya bahwa Allah telah memberikan keunggulan bagi Islam melalui dia.

Pilihan kedua adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Nabi Shalallohu’alaihi wasallam juga bersabda bahwa setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan Abu Ubaidah adalah kepercayaan umat Muslim.

Abu Bakar meminta mereka untuk memilih salah satu dari keduanya, tetapi kedua sahabat ini malah melangkah maju dan berbai’at kepada Abu Bakar. Menyaksikan ini, semua kaum Muhajirin dan Anshar juga berkerumun mengelilinginya dan bersumpah setia kepadanya.

Perselisihan pun terselesaikan dengan damai. Semua sahabat yang hadir pun menarik napas lega. Dengan cara yang sangat sederhana namun terencana, Abu Ubaidah berhasil melewati situasi genting bagi umat Islam dikala itu.

Selain sebagai seorang panglima perang, Abu Ubaidah juga dikenal sebagai seorang diplomat unggul dan negosiator handal yang mampu menemukan solusi damai untuk situasi yang berpotensi kekerasan dan pertikaian.

Abu Ubaidah pernah menakhlukkan sebuah kota Emesa di Syria. Saat itu dia menunjuk Ubadah bin ash-Shamit radhiallohu’anhu untuk memimpin pasukan dalam menjaga kota strategis itu. Adapun ia sendiri bergerak bersama tentara Muslim lainnya menuju kota Latakia.

Latakia adalah sebuah kota yang memiliki benteng yang terkenal kokoh sehingga pengepungan yang tidak semudah menakhlukkan benteng lainnya. Di sinilah panglima Islam yang ahli strategi, Abu Ubaidah bin al-Jarroh merencanakan strategi militer yang mengagumkan kawan maupun lawan. Dia memerintahkan para Mujahid untuk menggali parit di lapangan dekat kota. Kemudian ia memerintahkan pasukannya untuk mengakhiri pengepungan dan mundur pulang.

Ketika menyaksikan pasukan Muslimin mundur, penghuni kota itu bergembira ria. Mereka mengira bahwa kaum Muslimin telah berputus asa untuk membuka Latakia dan pulang dengan gagal. Akhirnya penduduk Latakia mulai beraktivitas seperti biasa. Sepanjang hari aktifitas dagang berlangsung di kota dalam keadaan pintu benteng dibiarkan terbuka. Begitu matahari terbenam, pintu-pintu itu ditutup kembali. Adapun Abu Ubaidah, ia memerintahkan kepada anak buahnya untuk bersembunyi di parit yang telah mereka gali tadi.

Keesokan harinya tatkala pagi tiba, pintu kota kembali dibuka dan penduduknya melakukan rutinitas mereka keluar masuk kota. Tiba-tiba para Mujahidin keluar dari parit memasuki kota dan dengan sangat mudah menaklukkannya!

Setelah penaklukan Damascus, Abu Ubaidah memberitahu Khalifah Umar bin al- Khaththab bahwa rakyat Damaskus sangat berharap bisa bertemu dengannya. Begitu Umar bin al- Khaththab mendengar ini, ia pun berangkat ke Levant. Selepas menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, tibalah sang Khalifah di Damascus. Ia lalu bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya tentang keberadaan saudaranya Abu Ubaidah. Kemudian mereka menunjuk kepada seseorang yang sedang berjalan mendekati mereka. Umar al-Faruq melangkah maju dan memeluk orang itu dengan hangat.

Umar al Faruq ingin bertamu ke rumah Abu Ubaidah. Namun Umar begitu terkesan ketika dia melihat gaya hidup Abu Ubaidah yang sangat bersahaja. Tidak ada benda-benda duniawi apapun dalam rumah itu selain pedang, busur, panah serta pelana. Umar al-Faruq kagum bahwa orang yang berstatus tinggi sepertinya telah memilih untuk hidup sesederhana itu. Ia mengatakan, “Wahai Abu Ubaidah, sangat mengejutkan bahwa meskipun engkau telah ditunjuk memegang jabatan sedemikian tinggi, engkau tidak menerima sesuatu pun untuk dirimu sendiri. “

Abu Ubaidah pun menjawab bahwa apa yang ia miliki sudah cukup baginya. Selama kekalifahan Umar al_Faruq, Abu Ubaidah tetap setia kepadanya. Dia selalu menjalankan perintah sang kalifah, kecuali pada satu hal. Dapatkah antum menebak dalam kasus apakah itu?

Begini ceritanya. Abu Ubaidah saat itu sedang melakukan tugasnya sebagai panglima pasukan Muslim di Levant. Seluruh Levant telah berhasil ditaklukkan sehingga kekhalifahan lslam dapat mengembangkan sayapnya hingga jauh dan luas. Namun, di tengah-tengah kegembiraan itu, terjadilah musibah dan cobaan dari Allah. Saat itu di Levant datang wabah penyaklt ganas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Wabah ini menyebar begitu cepatnya dan menjangkiti penduduk Levant. Dan orang-orang yang terjangkit akan segera meninggal dalam waktu yang tidak lama.

Ketika Umar al-Faruq mendengar musibah ini, ia ingin menyelamatkan Abu Ubaidah dari wabah itu dengan cara menyuruhnya pulang ke Madinah. Maka al-Faruq mengirim surat untuk Abu Ubaidah. Dalam surat itu ia memerintahkan agar Abu Ubaidah bersiap-siap untuk segera berangkat ke Madinah menemuinya tanpa menunda-nunda. Jika surat itu sampai kepadanya pada malam hari, ia harus berangkat sebelum fajar. Dan jika surat itu sampai di pagi hari, ia harus berangkat sebelum malam.

Ketika Abu Ubaidah membaca surat itu, ia bisa menebak apa yang diinginkan Umar al-Faruq atas dirinya. Abu Ubaidah paham bahwa Amir al-Mukminin ingin menyelamatkan hidupnya dari penyakit yang sedang mewabah di Levant tersebut.

Segeralah dibalasnya surat Amirul Mukminin. Pada surat balasan itu, setelah ucapan salam, Abu Ubaidah menuliskan bahwa dia tahu apa yang diinginkan Umar akan keselamatan dirinya. Abu Ubaidah menolak perintah itu dan mulai menuliskan alasannya dengan sopan dan lemah lembut. Abu Ubaidah tidak mau meninggalkan prajuritnya pada fase kritis itu dan enggan memisahkan diri dari mereka. Kemudian Abu Ubaidah memohon kepada Khalifah untuk mempertimbangkan ketidakberdayaannya untuk mematuhi perintahnya dalam hal ini dan memintanya untuk memberinya izin tetap tinggal di tengah-tengah Mujahidin.

Ketika Umar menerima surat ini dan membacanya, ia menangis tersedu-sedu sampai para Sahabat yang ada di sekelilingnya terkejut dan bertanya ada apa gerangan, apakah ada kabar buruk, atau apakah panglima pasukan Muslim di Levant sana Abu Ubaidah bin al- Jarroh telah meninggal.

Amiir al-Mukminin menjawab, ”Tidak, tapi kematian sangat dekat kepadanya.”
Dugaan Umar tidak meleset. Beberapa hari kemudian Abu Ubaidah tertular penyakit mematikan itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhir dia berpesan kepada sekalian pasukannya, “Hari ini aku ingin menyampaikan beberapa pesan, jika kalian mengikutinya niscaya akan menemukan kedamaian, dan keamanan menjadi sahabatmu. Pertama, dirikanlah shalat lima waktu. Kedua, berpuasalah selama bulan Ramadhan. Ketiga, berkorbahlah dan beramal lah. Keempat, lakukan ibadah haji. Kelima, berumrahlah. Keenam, saling berwasiatlah dalam kebaikan satu sama lain. Ketujuh, patuhlah kepada pemimpin, jangan mengkhianati mereka. Kedelapan, berhati-hatilah dalam melaksahakan tanggung jawab dan jangan sampai terperdaya dalam mengejar dunia. Perhatikan apa yang aku katakan selanjutnya. Sesungguhya, seandainya pun ada manusia yang hidup sampai seribu tahun, suatu hari ia pasti berada pada posisi sepertiku yang kalian saksikan ini. Tak ada seorang pun yang bisa lari dari kematian. Salam damai untuk kalian semua, semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mencurahkan rahmat-Nya pada kita semua.”

Sejenak kemudian ia berpaling kepada Mu’adz bin Jabal dan berkata, ”Wahai Mu’az, pimpinlah kaum Muslimin dengan baik dalam Shalat mereka. Maha Suci Sang Pemelihara.” Lalu terpisahlah ruh suci Abu Ubaidah dari jasadnya. “Kepunyaan Allah-lah seluruh makhluk, dan hanya kepada-Nya kita kembali.”

Mu’adz bin Jabal segera berdiri dan berkata dengan bibir bergetar menahan haru,
“Wahai saudara-saudara Muslimin, kalian telah dikejutkan oleh kematian seseorang yang hatinya jauh lebih baik daripada hati kita semua. Dia memiliki hati yang tulus bersih dari segala iri dan dengki, lebih mencintai akhirat dan ikhlas mengabdikan diri demi kepentingan umat. Dia adalah seorang pria yang telah diberi gelar Aminul-Ummah dan pernah diberi kabar gembira oleh Rasululloh bahwa dia akan memusuki surga beriringan dengan Nabi Muhammad Shalallohu’alaihi wasallam. Sungguh, dia adalah seorang yang beruntung. Semoga Allah mencurahkan rahmat atasnya dan meninggikan derajatnya di surga.”

Demikianlah sepenggal kisah heroik tentang Abu Ubaidah. Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya bahwa ia adalah seorang panglima besar Islam yang perjuangan jihadnya sangat panjang untuk meninggikan kalimatullah, baik dengan lisan maupun pedangnya. Ia juga adalah sosok tempat Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam meletakkan kepercayaannya. Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam ridha dan takjub kepadanya dikarenakan budi pekertinya yang agung, kesungguhan jihadnya dan keikhlasannya kepada Allah.

Tercatat pula bahwa Abu Ubaidah mempunyai andil besar dalam penyatuan barisan Muslimin sepeninggal Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Mujahidin dapat membebaskan negeri Levant yang sekarang mencakup beberapa negara seperti Suriah, Libanon, Palestina, Jordania dan yang lainnya dari cengkeraman Kekaisaran Romawi.

Memang ada beberapa Sahabat yang menyamainya dalam keahlian memimpin, akan tetapi hampir tidak ada di antara mereka yang menandinginya dalam keelokan akhlaknya. la laksana mutiara pilihan dalam pekerti mulia dengan persaksian dari Rasulullah Shalallohu’alaihi wasallam. Dia juga menyandang gelar as-Saubiquun al-Awwaluun (kelompok pertama yang masuk Islam) dan Ahad al-Asyrah al-Mubasysyiriina bil-jannah (salah seorang dari 10 Sahabat yang diberi kabar gembira masuk Surga).

Semoga Allah meridhai Sahabat mulia ini, Abu Ubaidah bin al-Jarrah al-Fihri al-Qurasy, seorang muhaddits yang faqih, mu’min yang jujur, yang kuat dan terpercaya. Mujahid yang syahid, panglima pemberani pasukan Muslim.