Istighfar

by -0 views
 قَــالَ الشَّــيخُ العلّامــة صَالِــح بنُ فَوزان الــفَوزَان –
حَــفظهُ الله- :
« وأما الذي يقول : أستغفرُ الله، بلسانه، وهو مقيمٌ على المعاصي بأفعاله، فهو كذابٌ لا ينفعُهُ الاستغفارُ، قال الفضيل بن عياض -رحمه الله- :
(( استغفارٌ بِلاَ إقلاعٍ توبةُ الكذابينَ ))
وقال آخرُ :
(( استغفارُنا يحتاجُ إلى استغفارٍ )) !
يعني أنَّ منِ استغفرَ ولم يترُكِ المعصية، فاستغفارهُ ذنبٌ يحتاجُ إلى استغفار، فلننظر في حقيقةِ استغفارنا، لئلاَّ نكونَ من الكذابينَ الذين يستغفرونَ بألسنتهم وهم مقيمونَ على معاصيهم »
[الخطب المنبرية في المناسبات العصرية ج (١) ص (٢٢٦)]
Berkata syaikh sholeh bin fauzan al fauzan hafizohullah :
“Dan adapun orang yang berkata : Astaghfirullah dengan lisannya, sedangkan dia berdiri diatas kemaksiatan dengan perbuatannya,  maka dia pendusta yang tidak bermanfaat istighfar nya itu.
Berkata Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah :
“Istighfar tanpa meninggalkan ( maksiatnya ) merupakan taubat para pendusta!.

Berkata yang lain :
Istighfar kita butuh kepada istighfar! Yaitu bahwa siapa yang minta ampun dan tidak meninggalkan maksiat,  maka istighfarnya itu suatu dosa yang butuh kepada istighfar.
Maka kita perhatikan hakikat dari istighfar kita,  agar kita tidak termasuk dari golongan para pendusta yang mereka minta ampun dengan lisan mereka,  sedangkan mereka berdiri di atas kemaksiatan mereka.”

al khithab al minbariyyah fil munaasabaatil ‘ashriyyah   1/226
Sumber: Multaqo Salafy Indonesia – ibn muhammad tiar
〰〰〰〰