Kaum Anshar dan Ghanimah (Rampasan Perang)

by -0 views
Kaum Anshar dan Ghanimah (Harta Rampasan Perang)
Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, beliau berkata: Ketika Rasulullah صلي الله عليه و سلم mulai membagi-bagikan harta rampasan perang kepada beberapa tokoh Quraisy dan kabilah Arab, tidak ada sedikitpun dari harta rampasan perang tersebut yang dibagikan kepada kaum Anshar. Hal ini menimbulkan kesedihan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah صلي الله عليه و سلم  sudah bertemu dengan kaumnya kembali.”

Kemudian masuklah Sa’d bin ‘Ubaidah رضي الله عنه menemui Rasulullah صلي الله عليه و سلم  lalu dia berkata: “Wahai Rasulullah صلي الله عليه و سلم , orang-orang Anshar ini merasa tidak enak terhadap Engkau, melihat apa yang Engkau lakukan dengan harta rampasan perang yang Engkau bagikan kepada kaum Engkau. Engkau bagikan kepada kabilah ‘Arab dan tidak ada seorang pun Anshar yang menerima bagian.”

Rasulullah صلي الله عليه و سلم bertanya” “Engaku sendiri di barisan mana, wahai Sa’d?”

Sa’d رضي الله عنه menjawab: “Saya hanyalah bagian dari mereka, dan tidaklah aku sendirian.”

Kata Rasulullah صلي الله عليه و سلم : “Kumpulkanlah kaummu di kemah ini!”

Lalu berdatanganlah kaum Anshar. Di antara yang datang ada beberapa orang Muhajirin tapi beliau biarkan mereka dan mereka pun masuk. Datang pula sebagian yang lain, tapi beliau menolak mereka.

Setelah kaum Anshar berkumpul, Sa’d رضي الله عنه pun berkata: “Orang-orang Anshar telah berkumpul untukmu, ya Rasulullah….”

Kemudian Rasulullah صلي الله عليه و سلم pun menemui mereka, lalu beliau صلي الله عليه و سلم memuji Allah سبحانه وتعالى dan menyanjung-Nya dengan pujuan yang layak bagi-Nya. Kemudian beliau صلي الله عليه و سلم bersabda: “Wahai sekaliah orang Anshar, apakah pembicaraanmu yang sampai kepadaku? Apakah pula perasaan tidak enak yang kalian rasakan dalam hati-hati kalian? Bukankah dulu aku datang kepada kalian yang dalam keadaan sesat, lalu Allah سبحانه وتعالى  memberi hidayah kepada kalian melalui aku? Bukankah kalian dulu miskin lalu Allah سبحانه وتعالى kayakan kalian denganku? Bukankah kalian dahulu saling bermusuhan lalu Allah سبحانه وتعالى satukan hati kalian?”

Kaum Anshar pun menjawab: “Bahkan Allah dan Rasul-Nya lebih banyak memberi kebaikan dan keutamaan.”

Rasulullah صلي الله عليه و سلم melanjutkan: “Mengapa kamu tidak membantahku, wahai kaum Anshar?”

“Dengan apa kami membantahmu, wahai Rasulullah? Padahal kepunyaan Allah dan Rasul-Nya segala kebaikan serta keutamaan,” jawab orang-orang Anshar.

ghanimah perang


Rasulullah صلي الله عليه و سلم pun melanjutkan: “Demi Allah, kalau kalian mau, kalian dapat mengatakan dan pasti kalian benar dan dibenarkan. ‘Engkau datang dalam keadaan terusir, kamilah yang memberimu tempat. Engkau datang dalam keadaan miskin, Kamilah yang mencukupimu.
Apakah kalian merasakan sedih dalam hati kalian, wahai kaum Anshar, dalam masalah harta duniawi yang sedikit, yang dengan itu aku ingin melunakkan hati suatu kaum agar mereka menerima Islam dan aku serahkan kalian pada keislaman kalian? Tidakkah kalian ridha, wahai orang-orang Anshar, meraka pergi dengan kambing dan unta mereka, sedangkan kalian pulang ke kampung halaman kalian dengan membawa Rasulullah? Demi yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Seandainya manusia menempuh satu lembah, dan orang-oang Anshar melewati lembah lain, pastilah aku ikut melewati lembah lain yang dilalui kaum Anshar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar.”

Mendengar ini, menangislah orang-orang Anshar hingga membasahi jenggot-jenggot mereka, sambil berseru: “Kami ridha bagian kami adalah Engkau, ya Rasulullah…”