Mari Berantas Perdukunan…!

by -0 views
Di zaman yang “katanya” kian maju ini, banyak orang yang justru kian mudah dibodohi. Laris manisnya praktik perdukunan adalah contoh nyata yang terpapar di depan kita. Karir sukses, gampang jodoh, lancar usaha, harmonis dalam rumah tangga, kaya mendadak hingga popularitas adalah segelintir jualan dukun yang mampu membenamkan akal sehat masyarakat.

Kasus penipuan yang melibatkan para dukun baik berupa “penggadaan” uang, pencabulan berkedok ritual pengobatan, pembunuhan pasien melalui “ramuan” mematikan dan lain sebagainya, nyatanya tak membuat masyarakat sadar. Dukun berikut produk-produknya masih demikian diminati masyarakat hingga kini.

Bahkan, demam perdukunan tak hanya menimpa masyarakat kelas bawah. Namun juga diderita masyarakat strata atas yang konon katanya mengenyam pendidikan tinggi. Tak sedikit dari seleberiti, elite politik, para pesohor dan kalangan atas lainnya, yang lekat dengan praktik serta produk perdukunan. Yang masih hangat, budaya klenik pun turut meramaikan bursa pencalegan.

Demi meraup ambisinya, para elit ini biasanya siap melakoni apapun titah sang dukun. Berendam di pemandian “wingit”. “Tirakat” pada malam tertentu, bahkan jika perlu mengorbankan anggota keluarganya sebagai tumbal. Tak heran jika “ilmu” dan produk supranatural seperti “ilmu” hikmah, terawangan, asmak, pengasih, pesugihan, perisai ghaib, tenaga dalam, keris bertuah dan jimat lainnya, yang dijual para duikun dengan mahar ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah laris manis diserbu orang-orang yang telah kehilangan akal sehatnya ini.

Ironisnya, berjejal pembenaran terhadap praktik tersebut tak hentinya diembuskan ke tengah masyarakat. Dari yang klasik bahwa ini katanya adalah ikhtiar hingga mengaburkan makna dukun dan kesyirikan, kuat diresap oleh masyarakat yang memang akidahnya masih perlu diluruskan. Masih banyak masyarakat yang tertipu dengan “kostum” yang dipakai para dukun. Juga silau dengan julukan kyai, ustadz, gus, habib, bahkan syaikh sekalipun. Demikian juga istilah paranormal, supranaturalis, ahli metafisika, spiritualis, pakar bioenergi, penghusada, atau yang semacamnya.

Agar kian samar dan tidak terkesan primitif, upaya pembodohan yang dilakukan para dukun ini pun menggunakan peranti teknologi. Hanya dengan mengetik SMS, orang bisa minta diramal. Hanya dengan telepon, melakukan “pengobatan” jarak jauh atau diterawang nasib dan jodohnya. Juga apa yang mereka istilahkan ilmu metafisika modern seperti hipnotis, telepati, astral, quantum dan lain sebagainya. Serta beragam istilah yang terlihat illmiah seperti aura, ion-ion tubuh, daya medan magnetis, energi supranatural, bioenergi, kosmik, prana dan sebagainya.

Padahal diakui atau tidak, “ilmu” supranatural yang mereka peroleh didapatkan dengan cara memuja bahkan bersekutu dengan jin atau setan, suatu hal yang telah jelas larangannya dalam syariat Islam. Si dukun sendiri, biasanya akan membantah keras kalau metodenya disebut klenik apalagi syirik. Untuk menipu masyarakat, mereka umumnya mengaku sebagai supranaturalis magis, menggunakan jin Islam, bukan jin kafir, jalan kanan bukan jalan kiri, membawa-bawa nama Allah subhanahuwata’ala dan ayat-ayat Alqur’an.

Kuatnya budaya klenik atau perdukunan ini tentu menjadi tantangan para da’i dan pemimpin umat untuk menguburnya. Keberhasilan praktik pemurtadan berkedok pengobatan dari “tuhan” oleh para penginjil Nasrani tentu tak lepas dari budaya ini. Upaya menghamili para perempuan muslim untuk selanjutnya dinikahi dan kemudian dipaksa masuk kristen adalah hal yang nyata terjadi dan merupakan misi kaum salibis yang sudah direncanakan secara rapi.

Perdukunan yang merambah kalangan elit sepatutnya dijadikan cermin bagaimana gambaran sesungguhnya akidah masyarakat yang masih goyah hingga di tingkat akar rumput. Nyata, bahwa akidah ummat ini masih harus diluruskan. Nyata bahwa perbaikan akidah umat menjadi suatu hal yang tak bisa diulur dan ditawar. Jangan sibukkan umat dengan contreng-menyontreng, jangan pula sibukkan umat dengan mimpi khilafah Islamiyah jika fondasi umat masih demikian rapuh. Tak ada kata lain, kibarkan dakwah tauhid terlebih dahulu, mari berantas perdukunan di tengah umat!