Pemutarbalikan Sejarah Islam [4]

by -0 views
4. Penilaian Buruk Terhadapa Sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه
Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه adalah sahabat Rasul صلي الله عليه و سلم yang mulia. Ketika Rasulullah صلي الله عليه و سلم menunaikan amratul qadha’ ( pada tahun ke 7 Hijriyah), sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  masuk Islam secara sembunyi-sembunyi (tanpa sepengetahuan kaum Quraysy). Beliau baru menampakkan ke-Islaman saat penakhlukkan kota Makkah (Fathu Makkah) pada tahun 8 hijriyah. Pada saat itu pula kedua orang tua beliau radhiallahu’anhuma (Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti ‘Utbah) dan juga saudara lelaki beliau (Yazid bin Abi Sufyan رضي الله عنه ) masuk Islam. Semenjak itu posisi Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  tergolong dekat dengan Rasulullah صلي الله عليه و سلم. Di samping sebagai adik ipar, beliau juga sebagai sekretaris pribadi Rasulullah صلي الله عليه و سلم.

Di masa Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه, beliau diangkat sebagai wakil panglima perang Islam untuk pasukan yang dikirim ke Negeri Syam dengan misi penakhlukan (ekspansi). Di masa Kahlifah ‘Umar bin Khatthab رضي الله عنه, beliau diangkat sebagai Gubernur Damaskus dan Yordania menggantikan sang kakak Yazid bin Abi Sufyan رضي الله عنه yang meninggal dunia. Di masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه, ketika Umair bin Sa’ad Al-Anshari (Gubernur Himsh dan Qansirin) sakit dan minta dipulangkan ke tengah-tengah keluarganya, berikutnya Abdurrahman bin Alqamah (Gubernur Palestina) meninggal dunia, diangkatlah sahabat Mu’awiyah رضي الله عنه yang sebagai gubernur tunggal Negeri Syam. Sejarah mencatat, tergabungnya semua wilayah negeri Syam di bawah kepemimpinan beliau, terjadi pada dua tahun pertama dari kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan.

Para pembaca yang mulia, mungkinkah Rasulullah صلي الله عليه و سلم, Khalifah Abu Bakr Ash-shiddiq, Khalifah ‘Umar bin Khatthab dan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallhu’anhuma memberikan kedudukan kepada sembarang orang atau bahkan orang yang jahat? Tentunya akal sehat mengatakan, tak mungkin. Sehingga, tidaklah mereka memberikan satu kedudukan kepada sahabat yang mulia Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  melainkan beliau adalah ahlinya yang terpercaya, baik dalam hal kepemimpinan maupun ke dalaman ilmu Islam-nya.

Sahabat Abdullah bin Amr bin  Al-Ash رضي الله عنه dan juga sahabat Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه mengatakan: “Aku tidak melihat seorang pun (setelah Rasulullah صلي الله عليه و سلم) yang lebih memiliki jiwa kepemimpinan daripada  Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه. ‘ Berkata Jabalah bin Suhaim: ‘Bagaimana dengan ‘Umar bin Al-Khattab?’ Abdullah bin Amr bin Al-Ash رضي الله عنه berkata: ‘ Umar bin Al-Khattab lebih mulia dari Mu’awiyah, akan tetapi Mu’awiyah lebih memiliki jika kepemimpinan’.” sahabat Abdullah bin Al-Abbas رضي الله عنه mengatakan: “Aku tidak melihat seorang pun yang melebihi Mu’awiyah dalam hal kepemimpinan. Beliau juga mengatakan: “Sungguh Mu’awiyah adalah seorang yang mendalam ilmu Islam-nya (faqih).”


Terbukti ketika Khalifah Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menyerahkan tampuk kepemimpinan umat kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه, seluruh elemen umat Islam yang sebelumnya (selama bertahun-tahun) terpecah-belah pun dapat segera disatukan di bawah kepemimpinan beliau, hingga tahun itu dikenang sebagai tahun persatuan (‘amul jama’ah). Sejarah Islam pun mencatat, selama dua puluh tahun  Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه menjadi Gubernur Syam, dan dua puluh tahun berikutnya menjadi khalifah umat Islam (hingga meninggal dunia), tak pernah ada  kendala berarti dalam memimpin umat Islam. Semua itu beliau jalani dalam keadaan dekat dengan rakyat dan rakyat pun amat mencintainya. Lebih dari itu, empat puluh tahun masa kempimpinan yang penuh rahmat tersebut beliau jalani di wilayah Syam yang berbatasan langsung dengan kekaisaran Romawi, musuh terkuat umat Islam. Setiap saat harus bersiaga tempur. Manakala terjadi pertempuran, tak jarang beliau رضي الله عنه sendiri yang memimpin langsung pertempuran. Perjalanan penuh sejarah yang tak bisa dipisahkan dari barakah do’a Rasulullah صلي الله عليه و سلم : “Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah seorang pemberi petunjuk yang senantiasa ditunjuki. Ya Allah, tunjukilah (manusia) dengan perantaranya.“[6]

Namun perjalanan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه yang penuh sejarah tersebut dikotori oleh tangan orang-orang yang tak tahu diri. Menilai dengan sesuatu yang tak bernilai, berkata tanpa berkaca, serta berbicara tanpa berlandaskan iman dan norma. Hadits-hadits lemah dan palsu sebagai senjatanya, kitab-kitab lemah dan palsu sebagai referensinya, dan para pendusta sebagai narasumbernya. Hingga berbaliklah sejarah Islam dari faktanya.

Para ulama Islam tak tinggal diam. Hadits-hadits palsu seputar sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه disingkap oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dalam kitab beliau “Al-Maudhu’at”. Sedangkan berbagai tuduhan keji seputar sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه telah dibantah dan didudukkan secara obyektif dan proporsional oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyah di beberapa tempat dalam kitab beliau “Minhajus Sunnah”, Al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi rahimahullah dalam kitab beliau “Al-‘Awashim minal Qawashim fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi” [7], Al Faqih Ahmad bin Hajar Al-Haitami rahimahullah dalam kitab beliau “Tathhirul Jinan Wal Lisan ‘ainil Khuthur wat Tafawwuh Bitsalbi Sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan”, dan para ulama lainnya rahimahumullah.

Para pembaca yang mulia, demikianlah sekelumit pembahasan tentang pemutarbalikkan sejarah Islam dan penempatan yang tidak pada tempatnya, berikut beberapa contoh kasusnya. Semoga dapat menyibak berbagai kabut hitam  yang menyelimuti cakrawala sejarah Islam dan mengikis berbagai keyakinan batil yang merusak aqidah umat Islam (akibat pemutarbalikan sejarah Islam tersebut.).
Wallahul Muqaffiq.***

——————————————–
Footnotes:
[6] Untuk mengetahui biografi sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه  secara lebih rinci, silahkan merujuk kitab “Usdul Ghabah” dan “Al-Kamil fit Tarikh” karya al-Imam Ibnul Atsir, “Al-Bidayah wan Nihayah” karya Al-Imam Ibnu Katsir, “Al-‘awashim minal Qawashim fit Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi” karya Abu Bakr Ibnul Arabi beserta catatan kaki Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-khatib terhadapnya, “Minhajus Sunnah” karya Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, “Tathhirul Jinan Wallisan ‘Anil Khuttur Wattafawwuh Bitsalbi sayyidina Mu’awiyah bin Abi Sufyan” karya Al-Faqih Ahmad bin Hajar Al Haitami, Mukadimah kitab “Matha’in Sayyid Qutb fii Asshabi Rasulillah” (bantahan Asy-Syaikh Mahmud Syakir terhadap Sayyid Qutb), dll.

[7] Tak ketinggalan pula Asy-syaikh Muhibbuddin Al-khattib dalam catatan kakinya terhadap kitab “Al-‘Awashim Minal Qawashim fi Tahqiqi Mawaqifish Shahabah Ba’da Wafatin Nabi”.